Mencintai dalam diam. Bukan hanya karena membungkam mulut untuk tidak mengutarakannya padamu, bukan hanya tentang aku yang memperjuangkanmu dalam do’a, bukan juga tentang sikapku yang tersenyum didepanmu, lalu menangis dibelakangmu.
Merindukanmu dalam keheningan, memandangimu dari kejauhan, memberikan perhatian dengan beragam upaya yang aku lakukan, mengambil sedikit kesempatan saat bersama dalam setiap keadaan, ataupun berusaha membuatmu merasa senang walau ada perasaan yang harus dikorbankan apa itu yang disebut mencintai dalam diam?
Mungkin sebagian besar orang akan berpendapat demikian. Tapi aku tidak, cinta itu adalah fitrah, suci, haruskah menodainya dengan perkara-perkara yang tidak Allah ridhai?
Saat aku merasa telah jatuh hati, mungkin memang itulah jalan Allah untuk mengahadirkan suatu rasa yang harus aku miliki tetapi, tidak menutup kemungkinan bahwa hal itu bisa menjadi ujian iman yang harus dilalui.
Saat seorang jatuh hati sebelum ada ikatan halal, ada baiknya untuk memilih mencintai dalam diam. Diam disini, bukan hanya membungkam, memendam, ataupun menahan. Tetapi juga menjaga hati agar tidak melulu memikirkan dia yang mungkin hanya sebentuk godaan.
Cukuplah perasaan itu dijaga, tidak harus menceritakannya pada siapapun juga. Aku pasrahkan segalanya kepada yang maha membolak balikkan hati manusia, aku ikhlaskan rasa yang tengah mendera dalam dada agar tidak menjdikan cinta itu lebih besar dari cinta kepadaNya.
Aku percaya jika memang kamu yang ditakdirkanNya untuk melengkapi imanku, Maka Allah akan satukan dengan caraNya. Namun jika itu sebaliknya, maka akan Allah gantikan dengan yang lebih baik. Dengan demikian, takkan ada hal yang disebut “dilema atau luka mencintai dalam diam”.
Merindukanmu dalam keheningan, memandangimu dari kejauhan, memberikan perhatian dengan beragam upaya yang aku lakukan, mengambil sedikit kesempatan saat bersama dalam setiap keadaan, ataupun berusaha membuatmu merasa senang walau ada perasaan yang harus dikorbankan apa itu yang disebut mencintai dalam diam?
Mungkin sebagian besar orang akan berpendapat demikian. Tapi aku tidak, cinta itu adalah fitrah, suci, haruskah menodainya dengan perkara-perkara yang tidak Allah ridhai?
Saat aku merasa telah jatuh hati, mungkin memang itulah jalan Allah untuk mengahadirkan suatu rasa yang harus aku miliki tetapi, tidak menutup kemungkinan bahwa hal itu bisa menjadi ujian iman yang harus dilalui.
Saat seorang jatuh hati sebelum ada ikatan halal, ada baiknya untuk memilih mencintai dalam diam. Diam disini, bukan hanya membungkam, memendam, ataupun menahan. Tetapi juga menjaga hati agar tidak melulu memikirkan dia yang mungkin hanya sebentuk godaan.
Cukuplah perasaan itu dijaga, tidak harus menceritakannya pada siapapun juga. Aku pasrahkan segalanya kepada yang maha membolak balikkan hati manusia, aku ikhlaskan rasa yang tengah mendera dalam dada agar tidak menjdikan cinta itu lebih besar dari cinta kepadaNya.
Aku percaya jika memang kamu yang ditakdirkanNya untuk melengkapi imanku, Maka Allah akan satukan dengan caraNya. Namun jika itu sebaliknya, maka akan Allah gantikan dengan yang lebih baik. Dengan demikian, takkan ada hal yang disebut “dilema atau luka mencintai dalam diam”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar