Senin, 03 April 2017
Seratus Dua Puluh Delapan Hari Tak Bertemu
Malam ini, aku sedang berbaring di kamarku. Sambil memandangi langit-langit di kamarku. Tidak ada kehangatan di sini. Pikiranku kosong. Tak ada perayaan ulang tahunku seperti biasanya, karena memang aku tidak pernah di Raya kan. Di hari ulang tahunku yang ke dua puluh dan aku merasa semua hampa. Orang-orang mengucapkan doa-doa sederhana, doa yang berisi tentang kebahagiaanku, tapi yang aku harapkan ada sosoknya dalam setiap kebahagiaanku.
Derasnya hujan berubah jadi rintik-rintik. Dalam dinginnya malam seperti ini, aku berharap kamulah gadis yang aku peluk di tengah hari bahagiaku. Sedihnya hatiku tak mampu lagi ditolong lagi. Aku merindukanmu, sungguh. Dan aku masih berharap kamu tiba-tiba berada di depan pagar rumahku, tidak perlu ada kue ulang tahun ataupun kado, aku hanya ingin melihatmu. Melihat gadis yang tidak aku ketahui bagaimana wajahnya sekarang. Mungkin, kamu lebih menggemaskan, atau senyummu tentu jauh lebih mudah untuk dirindukan.
Memang, ucapanmu tadi siang sedikit mengobati rinduku, walaupun tak sepenuhnya mengobati. Ucapanmu melalui Facebook itu cukup membuatku merasa sedikit lebih baik. Setidaknya, hari ulang tahunku tidak sesedih yang aku harapkan. Kamu ternyata masih mengingatnya, seperti aku yang masih mengingat hari ulang tahunmu di tanggal dua puluh enam November itu.
Nona, dua puluh enam November kemarin, usiamu telah sembilan belas tahun, dan hari ini aku berusia dua puluh tahun. Lihatlah, ada banyak hal yang berbeda. Kita semakin menua dan aku takut menerima kenyataan bahwa mungkin aku akan menua serta melanjutkan hidupku bersama orang yang salah. Aku takut menerima kenyataan bahwa mungkin aku tidak menghabiskan sisa umurku bersamamu. Aku takut jika setahun ke depan, dua tahun ke depan, hingga tahun-tahun berikutnya diisi oleh penyesalan-penyesalan bodoh. Aku takut hari-hariku diisi hanya dengan rasa bersalah karena sebagai pria-- aku tidak mampu membahagiakanmu.
Aku takut jika aku menua tanpa rasa bahagia. Aku takut selamanya hidupku dihantui penyesalan. Aku takut jika duniaku masih penuh tentangmu sementara dalam duniamu tentu sudah tidak pernah ada aku berotasi di sana. Nona, kalau boleh aku mengaku, berada dekat denganmu saja sudah membuatku bahagia apalagi jika bisa bersamamu. Aku tidak mengerti mengapa aku semakin merasa kehilangan kamu justru di saat kita tidak lagi bersama.
Ketakutan-ketakutan itu membuat aku semakin cepat menghabiskan secangkir kopi di meja. Izinkan aku untuk merindukanmu meskipun itu akan membuatku sakit. Membuka ponselku. Memutar lagu Daniel Bedingfield. Seketika aku memejamkan mata, seandainya kamu ada di sini. Seandainya kamu ada di sini. Kubuka foto kita yang hanya ada beberapa di ponselku. Namun itu sangat berarti untukku.
Lihatlah matamu itu, sinar mata kesukaanku. Lihatlah senyum itu, betapa aku ingin memutar ulang waktu agar bisa terus bersamamu. Lihatlah caramu menatapku dengan tatapan itu, aku tahu betapa dulu aku sangat jatuh cinta padamu. Dan suara Daniel Bedingfield masih menggema di kamarku, yang membuatku semakin pedih mengingatmu. Kututup wajah dan foto-foto kita. Aku kencangkan volume lagu Daniel Bedingfield yang selalu membuatku mengingatmu. Kemudian, kadang tak terasa ada air mata yang turun kewajahku. Aku pun tak tahu apa artinya, arti dari air mata itu.
Aku resapi setiap kali Daniel Bedingfield berkata dan berbisik. Aku tatap dalam-dalam pagar di rumahku. Aku berharap kamu di sana. Aku berharap kamu di sana. Aku berharap kamu di depan pagar rumahku. Mengucapkan selamat ulang tahun padaku sebelum malam berganti pagi. Sebelum hari ini berganti menjadi besok.
Daniel Bedingfield masih bernyanyi. Lagu Daniel Bedingfield masih ada. Tapi kamu tidak ada.
Dari pria,
yang masih sering menangisimu.
Langganan:
Postingan (Atom)
Bismillah... Mulai detik ini aku ikhlas melepasmu Bukan berarti aku tak cinta Bukan berarti aku tak peduli Hanya saja cinta ini belum sa...
-
Bisakah Kaubayangkan Rasanya jadi Aku? Kamu pernah menjadi bagian hari-hariku. Setiap malam, sebelum tidur, kuhabiskan beberapa menit untu...
-
Aku sadar dan benar-benar tau, aku bukan siapa-siapa untukmu. Hanya segelintir teman yang tak berguna. Teman yang hanya sekedar diajak meng...
-
Bismillah... Mulai detik ini aku ikhlas melepasmu Bukan berarti aku tak cinta Bukan berarti aku tak peduli Hanya saja cinta ini belum sa...