Kamis, 24 Agustus 2017

Mencintai Dalam Diam, Bukan Hanya Karena Membungkam Mulut


Mencintai dalam diam. Bukan hanya karena membungkam mulut untuk tidak mengutarakannya padamu, bukan hanya tentang aku yang memperjuangkanmu dalam do’a, bukan juga tentang sikapku yang tersenyum didepanmu, lalu menangis dibelakangmu.

Merindukanmu dalam keheningan, memandangimu dari kejauhan, memberikan perhatian dengan beragam upaya yang aku lakukan, mengambil sedikit kesempatan saat bersama dalam setiap keadaan, ataupun berusaha membuatmu merasa senang walau ada perasaan yang harus dikorbankan apa itu yang disebut mencintai dalam diam?

Mungkin sebagian besar orang akan berpendapat demikian. Tapi aku tidak, cinta itu adalah fitrah, suci, haruskah menodainya dengan perkara-perkara yang tidak Allah ridhai?

Saat aku merasa telah jatuh hati, mungkin memang itulah jalan Allah untuk mengahadirkan suatu rasa yang harus aku miliki tetapi, tidak menutup kemungkinan bahwa hal itu bisa menjadi ujian iman yang harus dilalui.

Saat seorang jatuh hati sebelum ada ikatan halal, ada baiknya untuk memilih mencintai dalam diam. Diam disini, bukan hanya membungkam, memendam, ataupun menahan. Tetapi juga menjaga hati agar tidak melulu memikirkan dia yang mungkin hanya sebentuk godaan.

Cukuplah perasaan itu dijaga, tidak harus menceritakannya pada siapapun juga. Aku pasrahkan segalanya kepada yang maha membolak balikkan hati manusia, aku ikhlaskan rasa yang tengah mendera dalam dada agar tidak menjdikan cinta itu lebih besar dari cinta kepadaNya.

Aku percaya jika memang kamu yang ditakdirkanNya untuk melengkapi imanku, Maka Allah akan satukan dengan caraNya. Namun jika itu sebaliknya, maka akan Allah gantikan dengan yang lebih baik. Dengan demikian, takkan ada hal yang disebut “dilema atau luka mencintai dalam diam”. 

Senin, 21 Agustus 2017

Aku Hanya Ingin kau Menghargainya


Aku sadar dan benar-benar tau, aku bukan siapa-siapa untukmu. Hanya segelintir teman yang tak berguna. Teman yang hanya sekedar diajak mengobrol atau tertawa.

Tapi, yang harusnya kau tau, aku peduli denganmu. Sayang? ya, kamu tak pernah tau dan tak akan mau tau. Oke, fine. Aku tak masalah dengan itu.

Dan hal yang paling aku takutkan adalah, jika aku mengunggkapkan perasaanku kau akan menjauhiku. Point terakhir itu, yang selalu membuatku takut, untuk mengungkapkannya. Bukannya aku tidak mau atau tak berani, hanya saja aku hanya ingin tetap dekat denganmu meskipun hanya sebagai teman. 

Seandainya, kau bisa mengerti. Jika aku mengungkapkannya, bukan berarti aku mengharapkan jawaban atau status. Aku hanya berharap, paling tidak kau tau, kalau ada seseorang yang masih peduli denganmu. Dan itu sudah cukup untukku. Tak perlu, kau berucap, 'Aku hanya menganggapmu sebagai teman.'

Sampai kapan kau akan mengerti? Aku tak memintamu untuk menganggapku sebagai teman! Aku juga tak memintamu untuk menganggapku sebagai orang yang spesial atau istimewa! Aku tak mengharapkan semua itu! Dan aku juga tak ingin itu! Aku hanya ingin kau tau. Dan menghargainya. Itu saja.

Mungkin, kau masih bingung dengan maksudku. Atau kau bingung, yang aku maksudkan adalah, ketika aku tau kau sudah punya pasangan, kau akan mengerti betapa hancurnya aku saat itu. Sebagai orang yang menyukaimu diam-diam, mungkin menjauh darimu adalah cara terbaik. Dan aku telah melakukannya berulang-ulang kali.

Aku hanya mencoba untuk mengobati perasaanku. Dan itulah maksudku, 'kau bisa menghargainya.' Paling tidak, kau menghargai setiap perhatian yang aku berikan. Tak perlu status 'teman', 'sahabat', apalagi 'pacar'. Aku sangat sadar, itu adalah harapan yang terlalu tinggi.

Apa kau sadar? Mengetahui, kalau kau tau aku menyukaimu saja, itu membuatku lega. Dan aku tak berharap lebih. Andai kau tau, menyukaimu itu menyakitkan. Iya ini memang bukan salahmu, bukan juga salah siapa-siapa. 

Aku masih tetap yang dulu, masih menjadi pria yang berharap bisa bersamamu. Karena yang harus kau tau, aku tak ingin menjadikanmu sebagai pacar. Tapi aku ingin menjadikanmu sebagai istri ku, menjadi wanita yang akan selalu ada disaat senang maupun susah, menjadi wanita yang selalu setia bersamaku saat berbagi masalah datang mendera. Ya mungkin ini adalah harapan yang terlalu tinggi. 

Selamat malam, kau yang namanya selalu aku selipkan dalam tiap bait doa yang aku panjatkan kepada-Nya. 

Bismillah... Mulai detik ini aku ikhlas melepasmu Bukan berarti aku tak cinta Bukan berarti aku tak peduli Hanya saja cinta ini belum sa...