Jumat, 01 Desember 2017


Bismillah... Mulai detik ini aku ikhlas melepasmu
Bukan berarti aku tak cinta
Bukan berarti aku tak peduli
Hanya saja cinta ini belum saatnya menguasai hatiku
.
Aku takut rasa ini akan terus menerobos jika aku tak coba untuk membentenginya
Aku takut rasa ini akan mengurangi rasa cintaku pada-Nya
Aku takut Dia cemburu
Aku takut kekecewaan yang pernah kudapat dari manusia kan terulang lagi
Oleh karena itu, aku akan belajar mengikhlaskanmu
.
Aku tau ini takkan mudah untuk kujalani
Tapi hanya dengan cara inilah aku akan membuktikan pada Rabb-ku bahwa aku benar-benar mencintai-Nya lebih dari apapun
.
Biarlah senyum dan tatap mata ini tertunda dulu
Aku takkan rela jika keimananmu terganggu hanya karena lengkung senyum dibibirku
Takkan ku biarkan pandangan mataku ini menjadi penyebab lunturnya cintamu pada-Nya
.
Tadinya aku mengira apakah kisah cinta kita akan berakhir seperti kisah Ali dan Fatimah
Yang saling diam padahal menyimpan rasa
Yang saling memendam tapi pada akhirnya disatukan karena ridha-Nya
Namun kemudian aku berpikir
Jika kita saling memendam rasa selama mungkin,
namun pada akhirnya tidak disatukan
Apakah aku masih bisa terima?
Apakah aku masih bisa ikhlas?
Oleh karena itu, mulai saat ini aku belajar mengikhlaskanmu
.
Biarlah saat ini kita saling sibuk
Aku sibuk menshalehahkan diriku
Dan kau sibuk menshalehkan dirimu
Agar jika suatu saat kita bertemu kita sudah siap untuk membangun mahligai cinta yang sesungguhnya
Namun jikalau kita tidak ditakdirkan bersatu
Mungkin itu adalah takdir terbaik dari Sang Ilahi
Intinya, aku sudah ikhlas melepasmu..
.
.
. 😊

Kamis, 24 Agustus 2017

Mencintai Dalam Diam, Bukan Hanya Karena Membungkam Mulut


Mencintai dalam diam. Bukan hanya karena membungkam mulut untuk tidak mengutarakannya padamu, bukan hanya tentang aku yang memperjuangkanmu dalam do’a, bukan juga tentang sikapku yang tersenyum didepanmu, lalu menangis dibelakangmu.

Merindukanmu dalam keheningan, memandangimu dari kejauhan, memberikan perhatian dengan beragam upaya yang aku lakukan, mengambil sedikit kesempatan saat bersama dalam setiap keadaan, ataupun berusaha membuatmu merasa senang walau ada perasaan yang harus dikorbankan apa itu yang disebut mencintai dalam diam?

Mungkin sebagian besar orang akan berpendapat demikian. Tapi aku tidak, cinta itu adalah fitrah, suci, haruskah menodainya dengan perkara-perkara yang tidak Allah ridhai?

Saat aku merasa telah jatuh hati, mungkin memang itulah jalan Allah untuk mengahadirkan suatu rasa yang harus aku miliki tetapi, tidak menutup kemungkinan bahwa hal itu bisa menjadi ujian iman yang harus dilalui.

Saat seorang jatuh hati sebelum ada ikatan halal, ada baiknya untuk memilih mencintai dalam diam. Diam disini, bukan hanya membungkam, memendam, ataupun menahan. Tetapi juga menjaga hati agar tidak melulu memikirkan dia yang mungkin hanya sebentuk godaan.

Cukuplah perasaan itu dijaga, tidak harus menceritakannya pada siapapun juga. Aku pasrahkan segalanya kepada yang maha membolak balikkan hati manusia, aku ikhlaskan rasa yang tengah mendera dalam dada agar tidak menjdikan cinta itu lebih besar dari cinta kepadaNya.

Aku percaya jika memang kamu yang ditakdirkanNya untuk melengkapi imanku, Maka Allah akan satukan dengan caraNya. Namun jika itu sebaliknya, maka akan Allah gantikan dengan yang lebih baik. Dengan demikian, takkan ada hal yang disebut “dilema atau luka mencintai dalam diam”. 

Senin, 21 Agustus 2017

Aku Hanya Ingin kau Menghargainya


Aku sadar dan benar-benar tau, aku bukan siapa-siapa untukmu. Hanya segelintir teman yang tak berguna. Teman yang hanya sekedar diajak mengobrol atau tertawa.

Tapi, yang harusnya kau tau, aku peduli denganmu. Sayang? ya, kamu tak pernah tau dan tak akan mau tau. Oke, fine. Aku tak masalah dengan itu.

Dan hal yang paling aku takutkan adalah, jika aku mengunggkapkan perasaanku kau akan menjauhiku. Point terakhir itu, yang selalu membuatku takut, untuk mengungkapkannya. Bukannya aku tidak mau atau tak berani, hanya saja aku hanya ingin tetap dekat denganmu meskipun hanya sebagai teman. 

Seandainya, kau bisa mengerti. Jika aku mengungkapkannya, bukan berarti aku mengharapkan jawaban atau status. Aku hanya berharap, paling tidak kau tau, kalau ada seseorang yang masih peduli denganmu. Dan itu sudah cukup untukku. Tak perlu, kau berucap, 'Aku hanya menganggapmu sebagai teman.'

Sampai kapan kau akan mengerti? Aku tak memintamu untuk menganggapku sebagai teman! Aku juga tak memintamu untuk menganggapku sebagai orang yang spesial atau istimewa! Aku tak mengharapkan semua itu! Dan aku juga tak ingin itu! Aku hanya ingin kau tau. Dan menghargainya. Itu saja.

Mungkin, kau masih bingung dengan maksudku. Atau kau bingung, yang aku maksudkan adalah, ketika aku tau kau sudah punya pasangan, kau akan mengerti betapa hancurnya aku saat itu. Sebagai orang yang menyukaimu diam-diam, mungkin menjauh darimu adalah cara terbaik. Dan aku telah melakukannya berulang-ulang kali.

Aku hanya mencoba untuk mengobati perasaanku. Dan itulah maksudku, 'kau bisa menghargainya.' Paling tidak, kau menghargai setiap perhatian yang aku berikan. Tak perlu status 'teman', 'sahabat', apalagi 'pacar'. Aku sangat sadar, itu adalah harapan yang terlalu tinggi.

Apa kau sadar? Mengetahui, kalau kau tau aku menyukaimu saja, itu membuatku lega. Dan aku tak berharap lebih. Andai kau tau, menyukaimu itu menyakitkan. Iya ini memang bukan salahmu, bukan juga salah siapa-siapa. 

Aku masih tetap yang dulu, masih menjadi pria yang berharap bisa bersamamu. Karena yang harus kau tau, aku tak ingin menjadikanmu sebagai pacar. Tapi aku ingin menjadikanmu sebagai istri ku, menjadi wanita yang akan selalu ada disaat senang maupun susah, menjadi wanita yang selalu setia bersamaku saat berbagi masalah datang mendera. Ya mungkin ini adalah harapan yang terlalu tinggi. 

Selamat malam, kau yang namanya selalu aku selipkan dalam tiap bait doa yang aku panjatkan kepada-Nya. 

Rabu, 17 Mei 2017

Ketika Kamu Mencari Yang Sempurna Kamu Akan Kehilangan Yang terbaik


Tuhan terimakasih engkau telah memberikan aku kesempatan untuk bertemu dengannya, berkenalan dengannya, dekat dengannya, bahkan bisa menghabiskan hari hariku saat ini bersamanya.

Aku bersyukur dia adalah sosok wanita yang selalu memberikan semangat tiada hentinya disaat aku lelah. Aku memang bukan sosok yang sempurna untuknya tapi aku akan berusaha selalu jadi yang terbaik untuknya. Kehadirnya benar-benar melengkapi hidupku. Kehadirannya membuat hidupku berwarna, membuat aku kembali mengenal cinta.

Hey kamu sosok wanita yang aku ceritakan, yang saat ini aku sebut kamu dengan panggilan sayang  aku berharap kamulah orangnya, seseorang yang dikirim tuhan untuk melengkapiku, menjaga hatiku, mau menghabiskan hari hari bersamaku, menghabiskan setiap waktu bersamaku hingga tua nanti, hingga rambut kita memutih, hingga kita sama-sama sudah tak mempunyai apa-apa selain aku punya kamu dan kamu cuma punya aku.

Aku beharap akan semua hal itu sayang, aku hanya mencari orang yang mengerti baik dan buruknya aku tetapi ia masih tetap bertahan. Menerima segala kekurangan, orang yang terlihat baik memang selalu tersedia, tapi apakah dengan segala kekurangan kita mereka bisa menerima dan mampu hadirkan bahagia?, jawabanya tidak. kita sudah cukup besar aku rasa sudah bukan waktunya main-main apalagi soal perasaan. Aku harap kita sama-sama saling melangkah dan mempertahankan langkah bersama.

Karena cinta bukan sekedar melangkah bersama tetapi juga tentang mempertahankan langkah disaat salah satu mulai lelah.

Senin, 03 April 2017

Seratus Dua Puluh Delapan Hari Tak Bertemu


Malam ini, aku sedang berbaring di kamarku. Sambil memandangi langit-langit di kamarku. Tidak ada kehangatan di sini. Pikiranku kosong. Tak ada perayaan ulang tahunku seperti biasanya, karena memang aku tidak pernah di Raya kan. Di hari ulang tahunku yang ke dua puluh dan aku merasa semua hampa. Orang-orang mengucapkan doa-doa sederhana, doa yang berisi tentang kebahagiaanku, tapi yang aku harapkan ada sosoknya dalam setiap kebahagiaanku.

Derasnya hujan berubah jadi rintik-rintik. Dalam dinginnya malam seperti ini, aku berharap kamulah gadis yang aku peluk di tengah hari bahagiaku. Sedihnya hatiku tak mampu lagi ditolong lagi. Aku merindukanmu, sungguh. Dan aku masih berharap kamu tiba-tiba berada di depan pagar rumahku, tidak perlu ada kue ulang tahun ataupun kado, aku hanya ingin melihatmu. Melihat gadis yang tidak aku ketahui bagaimana wajahnya sekarang. Mungkin, kamu lebih menggemaskan, atau senyummu tentu jauh lebih mudah untuk dirindukan.

Memang, ucapanmu tadi siang sedikit mengobati rinduku, walaupun tak sepenuhnya mengobati. Ucapanmu melalui Facebook itu cukup membuatku merasa sedikit lebih baik. Setidaknya, hari ulang tahunku tidak sesedih yang aku harapkan. Kamu ternyata masih mengingatnya, seperti aku yang masih mengingat hari ulang tahunmu di tanggal dua puluh enam November itu.

Nona, dua puluh enam November kemarin, usiamu telah sembilan belas tahun, dan hari ini aku berusia dua puluh tahun. Lihatlah, ada banyak hal yang berbeda. Kita semakin menua dan aku takut menerima kenyataan bahwa mungkin aku akan menua serta melanjutkan hidupku bersama orang yang salah. Aku takut menerima kenyataan bahwa mungkin aku tidak menghabiskan sisa umurku bersamamu. Aku takut jika setahun ke depan, dua tahun ke depan, hingga tahun-tahun berikutnya diisi oleh penyesalan-penyesalan bodoh. Aku takut hari-hariku diisi hanya dengan rasa bersalah karena sebagai pria-- aku tidak mampu membahagiakanmu.

Aku takut jika aku menua tanpa rasa bahagia. Aku takut selamanya hidupku dihantui penyesalan. Aku takut jika duniaku masih penuh tentangmu sementara dalam duniamu tentu sudah tidak pernah ada aku berotasi di sana. Nona, kalau boleh aku mengaku, berada dekat denganmu saja sudah membuatku bahagia apalagi jika bisa bersamamu. Aku tidak mengerti mengapa aku semakin merasa kehilangan kamu justru di saat kita tidak lagi bersama.

Ketakutan-ketakutan itu membuat aku semakin cepat menghabiskan secangkir kopi di meja. Izinkan aku untuk merindukanmu meskipun itu akan membuatku sakit. Membuka ponselku. Memutar lagu Daniel Bedingfield. Seketika aku memejamkan mata, seandainya kamu ada di sini. Seandainya kamu ada di sini. Kubuka foto kita yang hanya ada beberapa di ponselku. Namun itu sangat berarti untukku.

Lihatlah matamu itu, sinar mata kesukaanku. Lihatlah senyum itu, betapa aku ingin memutar ulang waktu agar bisa terus bersamamu. Lihatlah caramu menatapku dengan tatapan itu, aku tahu betapa dulu aku sangat jatuh cinta padamu. Dan suara Daniel Bedingfield masih menggema di kamarku, yang membuatku semakin pedih mengingatmu. Kututup wajah dan foto-foto kita. Aku kencangkan volume lagu Daniel Bedingfield yang selalu membuatku mengingatmu. Kemudian, kadang tak terasa ada air mata yang turun kewajahku. Aku pun tak tahu apa artinya, arti dari air mata itu.

Aku resapi setiap kali Daniel Bedingfield berkata dan berbisik. Aku tatap dalam-dalam pagar di rumahku. Aku berharap kamu di sana. Aku berharap kamu di sana. Aku berharap kamu di depan pagar rumahku. Mengucapkan selamat ulang tahun padaku sebelum malam berganti pagi. Sebelum hari ini berganti menjadi besok.

Daniel Bedingfield masih bernyanyi. Lagu Daniel Bedingfield masih ada. Tapi kamu tidak ada.

Dari pria,
yang masih sering menangisimu.

Rabu, 29 Maret 2017

Bisakah Kaubayangkan Rasanya Jadi Aku?


Bisakah Kaubayangkan Rasanya jadi Aku?

Kamu pernah menjadi bagian hari-hariku. Setiap malam, sebelum tidur, kuhabiskan beberapa menit untuk membaca pesan singkatmu. Tawa kecilmu, kecupan berbentuk tulisan, dan canda kita selalu membuatku tersenyum diam-diam. Perasaan ini sangat dalam, sehingga aku memilih untuk memendam.

Jatuh cinta terjadi karena proses yang cukup panjang, itulah proses yang seharusnya aku lewati secara alamiah dan manusiawi. Proses yang panjang itu ternyata tak terjadi, pertama kali melihatmu; aku tahu suatu saat nanti kita bisa berada di status yang lebih spesial. Aku terlalu penasaran ketika mengetahui kehadiranmu mulai mengisi kekosongan hatiku. Kebahagiaanku mulai hadir ketika kamu menyapaku lebih dulu dalam pesan singkat. Semua begitu bahagia.... dulu.

Aku sudah berharap lebih. Kugantungkan harapanku padamu. Kuberikan sepenuhnya perhatianku untukmu. Sayangnya, semua hal itu seakan tak kaugubris. Kamu di sampingku, tapi getaran yang kuciptakan seakan tak benar-benar kaurasakan. Kamu berada di dekatku, namun segala perhatianku seperti menguap tak berbekas. Apakah kamu benar tidak memikirkan aku? Bukankah kata teman-temanmu, kamu adalah perenung yang seringkali menangis ketika memikirkan sesuatu yang begitu dalam? Temanmu bilang, kamu melankolis, senang memendam, dan enggan bertindak banyak. Kamu lebih senang menunggu. Benarkah kamu memang menunggu? Apalagi yang kautunggu jika kausudah tahu bahwa aku mencintaimu?

Nona, tak mungkin kautak tahu (atau memang kamu tidak mau tahu) ada perasaan aneh di dadaku. Kekasihku yang belum sempat kumiliki, tak mungkin kautak memahami perjuangan yang kulakukan untukmu. Kamu ingin tahu rasanya seperti aku? Dari awal, ketika kita pertama kali berkenalan, aku hanya ingin melihatmu bahagia. Senyummu adalah salah satu keteduhan yang paling ingin kulihat setiap hari. Dulu, aku berharap bisa menjadi salah satu sebab kautersenyum setiap hari, tapi ternyata harapku terlalu tinggi.

Semua telah berakhir. Tanpa ucapan pisah. Tanpa lambaian tangan. Tanpa kaujujur mengenai perasaanmu. Perjuanganku terhenti karena aku merasa tak pantas lagi berada di sisimu. Sudah ada seseorang yang baru, yang nampaknya jauh lebih baik dan sempurna daripada aku. Tentu saja, jika dia tak sempurna—kautak akan memilih dia menjadi satu-satunya bagimu.

Setelah tahu semua itu, apakah kamu pernah menilik sedikit saja perasaanku? Ini semua terasa aneh bagiku. Kita yang dulu sempat dekat, walaupun tak punya status apa-apa, meskipun berada dalam ketidakjelasan, tiba-tiba menjauh tanpa sebab. Aku yang terbiasa dengan sapaanmu di pesan singkat harus (terpaksa) ikhlas karena akhirnya kamu sibuk dengan kekasihmu. Aku berusaha memahami itu. Setiap hari. Setiap waktu. Aku berusaha meyakini diriku bahwa semua sudah berakhir dan aku tak boleh lagi berharap terlalu jauh.

Nona, jika aku bisa langsung meminta pada Tuhan, aku tak ingin perkenalan kita terjadi. Aku tak ingin mendengar suaramu ketika menyebutkan nama. Aku tak ingin membaca pesan singkatmu yang lugu tapi manis. Sungguh, aku tak ingin segala hal manis itu terjadi jika pada akhirnya kamu menghempaskan aku sekeji ini.

Kalau kauingin tahu bagaimana perasaanku, seluruh kosakata dalam miliyaran bahasa tak mampu mendeskripsikan. Perasaan bukanlah susunan kata dan kalimat yang bisa dijelaskan dengan definisi dan arti. Perasaan adalah ruang paling dalam yang tak bisa tersentuh hanya dengan perkatan dan bualan. Aku lelah. Itulah perasaanku. Sudahkah kaupaham? Belum. Tentu saja. Apa pedulimu padaku? Aku tak pernah ada dalam matamu, aku selalu tak punya tempat dalam hatimu.

Setiap hari, setiap waktu, setiap aku melihatmu dengannya; aku selalu berusaha menganggap semua baik-baik saja. Semua akan berakhir seiring berjalannya waktu. Aku membayangkan perasaanku yang suatu saat nanti pasti akan hilang, aku memimpikan lukaku akan segera kering, dan tak ada lagi hal-hal penyebab aku menangis setiap malam. Namun.... sampai kapan aku harus terus mencoba?

Sementara ini saja, aku tak kuat melihatmu. Sulit bagiku menerima kenyataan bahwa kamu yang begitu kucintai ternyata malah memilih pergi bersama yang lain. Tak mudah meyakinkan diriku sendiri untuk segera melupakanmu kemudian mencari pengganti.

Seandainya kamu bisa membaca perasaanku dan kamu bisa mengetahui isi otakku, mungkin hatimu yang beku akan segera mencair. Aku tak tahu apa salahku sehingga kita yang baru saja kenal, baru saja mencicipi cinta, tiba-tiba terhempas dari dunia mimpi ke dunia nyata. Tak penasarankah kamu pada nasib yang membiarkan kita kedinginan seorang diri tanpa teman dan kekasih?

Aku menulis ini ketika mataku tak kuat lagi menangis. Aku menulis ini ketika mulutku tak mampu lagi berkeluh. Aku mengingatmu sebagai sosok yang pernah hadir, meskipun tak pernah benar-benar tinggal. Seandainya kautahu perasaanku dan bisa membaca keajaiban dalam perjuanganku, mungkin kamu akan berbalik arah—memilihku sebagai tujuan. Tapi, aku hanya persinggahan, tempatmu meletakan segala kecemasan, lalu pergi tanpa janji untuk pulang.

Semoga kautahu, aku berjuang, setiap hari untuk melupakanmu. Aku memaksa diriku agar membencimu, setiap hari. Aku berusaha keras, setiap hari, menerima kenyataan yang begitu kelam.

Bisakah kaubayangkan rasanya jadi orang yang setiap hari terluka, hanya karena ia tak tahu bagaimana perasaan orang yang mencintainya? Bisakah kaubayangkan rasanya jadi aku yang setiap hari menatap ponsel hanya untuk menunggu pesan darimu?

Bisakah kaubayangkan rasanya jadi seseorang yang setiap hari menahan tangisnya agar tetap terlihat baik-baik saja?

Kamu tak bisa. Tentu saja. Kamu tidak perasa.

Bismillah... Mulai detik ini aku ikhlas melepasmu Bukan berarti aku tak cinta Bukan berarti aku tak peduli Hanya saja cinta ini belum sa...